Epicureanisme

mencari kebahagiaan sejati dengan menjauhi rasa sakit dan keinginan berlebih

Epicureanisme
I

Pernahkah kita merasa sangat menginginkan suatu barang, menabung berbulan-bulan, lalu ketika barang itu akhirnya ada di genggaman, rasa senangnya lenyap hanya dalam hitungan hari? Kalau iya, tenang saja, teman-teman tidak sendirian. Kita hidup di era di mana kata "cukup" terasa seperti mitos belaka. Buka media sosial, kita disodori gaya hidup yang serba mewah. Buka aplikasi belanja, selalu ada promo barang yang tiba-tiba terasa wajib kita miliki. Kita seolah terus berlari di atas hedonic treadmill, sebuah siklus di mana kita terus mengejar kebahagiaan yang rasanya selalu selangkah lebih maju dari jangkauan tangan kita. Rasanya sangat melelahkan, bukan?

II

Untuk memahami mengapa kita begitu terobsesi pada kata "lebih banyak", kita harus berani melihat ke dalam otak kita sendiri. Secara evolusioner, nenek moyang kita bertahan hidup karena mereka tidak mudah puas. Otak manusia memang dirancang untuk mencari kalori, status, dan keamanan. Ketika kita mendapatkan hal-hal itu, otak melepaskan dopamine, si pembawa pesan kimiawi pengantar rasa senang. Sayangnya, ada semacam bug dalam sistem biologi kita di dunia modern ini. Fenomena ini dalam sains disebut evolutionary mismatch. Otak kita masih beroperasi dengan software zaman batu, sementara kita hidup di era kelimpahan instan. Semakin sering kita membanjiri otak dengan dopamine dari belanja dadakan, makanan super manis, atau scroll media sosial berjam-jam, titik dasar atau baseline kebahagiaan kita justru bergeser naik. Akibatnya sangat fatal. Hal-hal sederhana tak lagi terasa menyenangkan. Kita butuh stimulus yang makin besar hanya untuk merasa biasa-biasa saja. Di titik inilah penderitaan manusia modern bermula.

III

Pertanyaannya sekarang, adakah jalan keluar dari jebakan biologis ini? Menariknya, resep penawarnya tidak datang dari perusahaan teknologi atau laboratorium modern. Resep ini lahir dari sebuah kebun rindang di pinggiran kota Athena sekitar 2.300 tahun yang lalu. Ada seorang filsuf yang menyadari bahwa akar penderitaan manusia bukanlah kurangnya harta. Ia melihat bahwa penderitaan justru lahir dari keinginan yang tidak terkendali. Pemikir ini merumuskan sebuah formula kebahagiaan yang sangat radikal pada masanya, dan mungkin terasa lebih radikal lagi di masa kini. Namun, sebelum saya membongkar siapa dia dan apa rahasianya, mari kita renungkan sesuatu. Bagaimana jika rahasia kebahagiaan sejati ternyata bukan tentang menambah apa yang kita miliki? Bagaimana jika solusinya justru menyingkirkan apa yang tidak benar-benar kita butuhkan? Bayangkan sebuah konsep di mana kesenangan tertinggi justru ditemukan dalam ketiadaan rasa sakit.

IV

Filsuf revolusioner itu bernama Epikuros, dan aliran pemikirannya dikenal luas sebagai Epicureanisme. Ironisnya, di zaman modern, istilah epicure sering disalahartikan sebagai sebutan untuk orang yang gila makan enak atau kaum hedonis. Padahal, keseharian Epikuros sangat jauh dari kesan mewah. Bagi Epikuros, tujuan hidup memang untuk mencari kebahagiaan, tetapi definisinya sangat berbeda dengan kita. Kesenangan tertinggi menurutnya adalah ataraxia (ketenangan jiwa) dan aponia (ketiadaan rasa sakit fisik). Untuk mencapainya, Epikuros membagi keinginan manusia menjadi tiga. Pertama, keinginan alami dan perlu, seperti makan saat lapar dan tempat berlindung. Kedua, alami tapi tidak perlu, seperti makanan mewah. Ketiga, tidak alami dan tidak perlu, seperti gila hormat, popularitas, dan kekayaan ekstrem. Menurutnya, kita menderita karena menghabiskan hidup mengejar kategori ketiga, yang sifatnya persis seperti lubang hitam tak berdasar. Secara neurosains, Epikuros sebenarnya sedang mengajari kita cara mereset ulang reseptor dopamine di otak. Dengan secara sadar menjauhi keinginan berlebih, kita menurunkan ekspektasi otak kita. Hasilnya sungguh luar biasa. Segelas air putih saat haus akan terasa sangat nikmat. Sepotong roti sederhana yang dimakan bersama teman-teman baik akan membawa kebahagiaan yang stabil, tanpa ada crash emosional sesudahnya.

V

Pada akhirnya, mempraktikkan Epicureanisme di abad ke-21 bukan berarti kita harus mengasingkan diri ke hutan dan meninggalkan peradaban. Ini adalah sebuah undangan ramah bagi kita semua untuk menjadi kurator atas keinginan kita sendiri. Mari kita berhenti sejenak di tengah hiruk-pikuk ini. Tanyakan pada diri sendiri: apakah barang tren terbaru ini, atau validasi dari orang asing di internet ini, benar-benar akan membawa ataraxia atau ketenangan? Atau jangan-jangan, ia hanya akan membuahkan kecemasan baru? Kebahagiaan sejati, teman-teman, rupanya bukanlah piala emas yang harus kita kejar dengan napas tersengal-sengal. Terkadang, ia sudah ada di sini, duduk diam di samping kita. Ia hadir dalam bentuk tubuh yang sehat, pikiran yang jernih tanpa beban, dan percakapan hangat dengan orang-orang yang kita sayangi. Mari kita nikmati dan rayakan apa yang sudah ada di genggaman, karena kebahagiaan yang paling awet justru terlahir dari rasa cukup.